Disuatu malam yang dingin, agin bertiup dengan nada marah kepada alam yang mengisyaratkan akan turun hujan malam ini. Alam seakan marah kepada bumi yang tidak mendukung akan datangnya hujan itu, apakah yang kan terjadi? Mengapa semua ini bisa terjadi disaat bersamaan? Dan hal yang lebih aneh lagi, langit pun menampakan kemarahannya dengan menutup diirinya dengan gumpalan awan hitam. Seakan semuanya telah diatur oleh Sang pencipta.
Aku yang saat itu duduk termenung menyaksikan kejaadian itu hanya terdiam dan tersenyum dan berkata dalam hati "mungkinkah alam semesta merasakan apa yang saat ini aku rasakan?" yah mungkin saja. Dan langit pun menagis dengan nada ritihan, makin terhanyut aku kedalam malam yang begitu dingin, sunyi, senyap, dan gelap. Aku mulai bertanya kepada diriku apa sebenarnya yang aku rasakan sehingga aku merasa begitu sedih, dan merasa sangat kehilangan, dan aku mulai tersenyum karena aku baru sadar ternyata selama ini yang aku rasakan kehilangan sesorang yang begitu aku sayang.
Entah mengapa aku sangat sangat merasakan apa itu yang disebut kehilangan. Ternyata rasanya tidak nampak tapi sanagt tersa hinga membuatku hancur dan tak berdaya dibuatnya. Dalam senyumku aku mulai meningat apa yang membuatku begitu sangat kehilangan dia, aku tidak bisa menjawab itu sendiri karena rasa itu sangat dalam hinga menusuk ketulang.
Aku bangkit dari tempat duduk dan mengeluarkan telfon genggamku dan aku kembali duduk dan mamasuki alam yang begitu gelap karena langit mulai mencucurkan air mata yang begitu deras hingga bumi tak mampu menahannya. Aku pejamkan mataku dan mencoba membayangkan wajah indahmu, senyum indahmu dan bibirmu yang selalu merah merona. Aku mengingat setiap kata demi kata yang pernah kau ucapkan kepadaku, hingga membuatku melayang dengan pujian yang selalu kau berikan.
Mungkin senyum indahmu itu yang membuat setiap orang ingin memilikimu, ataukah cuman aku saja yang menginginkannya entahlah semoga saja cuman aku saja yang merasakn semua itu. Tersentak aku pejamkan mata dan bertanya kepada malam yang dingin "Apakah cinta itu?" nampak kah dia? sang malam hanya tersenyum dengan mengirim suara angin yang begitu dingin. Masih terpaku dengan pertanyaan sendiri, dan mulai meningat tulisan Candar Malik " Cinta itu adalah kata kerja, dicintai adalah kata sifat, tapi cinta bukan kata benda, cinta itu kata hati" seperti itukah cinta itu? Aku masih termenung dibawah awan yang bergejolak dengan angin.
AAhh sudahlah cinta itu mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang merasakan kasmaran, bukan orang yang sedang kehilangan arah seperti aku ini. Mungkin mlam ini akan mengahapus semua bayangan dirimu, atau malah membuat bayanganmu makin nampak. Sesungguhnya aku tidak merasa kehilagan hanya merasa kesepian karena aku mulai terhanyut oleh drama ayang aki ciptakan sendiri. To Be Continue .
Aku yang saat itu duduk termenung menyaksikan kejaadian itu hanya terdiam dan tersenyum dan berkata dalam hati "mungkinkah alam semesta merasakan apa yang saat ini aku rasakan?" yah mungkin saja. Dan langit pun menagis dengan nada ritihan, makin terhanyut aku kedalam malam yang begitu dingin, sunyi, senyap, dan gelap. Aku mulai bertanya kepada diriku apa sebenarnya yang aku rasakan sehingga aku merasa begitu sedih, dan merasa sangat kehilangan, dan aku mulai tersenyum karena aku baru sadar ternyata selama ini yang aku rasakan kehilangan sesorang yang begitu aku sayang.
Entah mengapa aku sangat sangat merasakan apa itu yang disebut kehilangan. Ternyata rasanya tidak nampak tapi sanagt tersa hinga membuatku hancur dan tak berdaya dibuatnya. Dalam senyumku aku mulai meningat apa yang membuatku begitu sangat kehilangan dia, aku tidak bisa menjawab itu sendiri karena rasa itu sangat dalam hinga menusuk ketulang.
Aku bangkit dari tempat duduk dan mengeluarkan telfon genggamku dan aku kembali duduk dan mamasuki alam yang begitu gelap karena langit mulai mencucurkan air mata yang begitu deras hingga bumi tak mampu menahannya. Aku pejamkan mataku dan mencoba membayangkan wajah indahmu, senyum indahmu dan bibirmu yang selalu merah merona. Aku mengingat setiap kata demi kata yang pernah kau ucapkan kepadaku, hingga membuatku melayang dengan pujian yang selalu kau berikan.
Mungkin senyum indahmu itu yang membuat setiap orang ingin memilikimu, ataukah cuman aku saja yang menginginkannya entahlah semoga saja cuman aku saja yang merasakn semua itu. Tersentak aku pejamkan mata dan bertanya kepada malam yang dingin "Apakah cinta itu?" nampak kah dia? sang malam hanya tersenyum dengan mengirim suara angin yang begitu dingin. Masih terpaku dengan pertanyaan sendiri, dan mulai meningat tulisan Candar Malik " Cinta itu adalah kata kerja, dicintai adalah kata sifat, tapi cinta bukan kata benda, cinta itu kata hati" seperti itukah cinta itu? Aku masih termenung dibawah awan yang bergejolak dengan angin.
AAhh sudahlah cinta itu mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang merasakan kasmaran, bukan orang yang sedang kehilangan arah seperti aku ini. Mungkin mlam ini akan mengahapus semua bayangan dirimu, atau malah membuat bayanganmu makin nampak. Sesungguhnya aku tidak merasa kehilagan hanya merasa kesepian karena aku mulai terhanyut oleh drama ayang aki ciptakan sendiri. To Be Continue .







pakai selimut biar nda dingin kawan
BalasHapus