Abstrak
Komunikasi adalah hubungan kontak antar
dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari
disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu
sendiri. Manusia modern yaitu manusia yang cara berfikirnya tidak spekulatif
tetapi berdasarkan logika dan rasional dalam melaksanakan segala kegiatan dan
aktivitasnya. Kegiatan dan aktivitasnya itu akan terselenggara dengan baik
melalui proses komunikasi antar manusia.
Dalam kehidupan
sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia,
salah satu objek yang akan penulis bahas yaitu seseorang yang menutup jati
dirinya dengan mengutarakan sesuatu yang bukan jati dirinya yang sebenarnya.
Sehingga objek ini menciptakan fantasi
tentang dirinya yang lain, dan biasanya objek memanipulasi lingkungan
disekelilingnya, dalam berkomunikasi dan objek tersebut lebih senang dengan
kehidupan yang dibuatnya dibandingkan kehidupan nyatanya.
Communication is the relationship between humans and the contact
between both individuals and groups. In everyday life we
realize it or not the
communication is part of human life itself.
Modern humans are
humans that way
berfikirnya not speculative
but based on logic
and rational in
carrying out all the activities
and activities. Events
and activities that
will be held properly through the process of human
communication.
In everyday life we
always interact with
a variety of human character, one
of the objects to be authors
discuss the one who closes her identity by
expressing something that is not
his true self.
Object so that it
creates a fantasy about him the other, and
generally manipulate objects surrounding environment,
to communicate so that the object is more than happy with the life he made
compared to real life.
Object so that it
creates a fantasy about him the other, and
generally manipulate objects surrounding environment,
to communicate so that the object is more than happy with the life he made
compared to real life.
Kata Kunci : creating a fantasy about life
A. PENDAHULUAN
Sepanjang
waktu kita melakukan komunikasi. Tidak ada jalan untuk menghentikan proses
komunikasi. Proses itu tidak hanya terjadi dikala kita menghendakinya, bahkan
ada orang mengatakan diwaktu kita sendiripun kita melakukan komunikasi dengan
diri kitan sendiri.
Komunikasi
adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari
kehidupan manusia itu sendiri. Manusia modern yaitu manusia yang cara
berfikirnya tidak spekulatif tetapi berdasarkan logika dan rasional dalam
melaksanakan segala kegiatan dan aktivitasnya. Kegiatan dan aktivitasnya itu
akan terselenggara dengan baik melalui proses komunikasi antar manusia.
Pada
artikel ini penulis mencoba menitip beratkan pada kasus komunikasi
interpersonal terhadap seseorang yang menutup jati diri yang sebenarnya. Hal
ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan tempat dia besosialisasi.
Untuk
mengatasi permasalahan dia atas maka perlu dilakukna pembelajaran untuk
mengetahui apa penyebab seseorang menutup jati dirinya.
B. PERMASALAHAN
Permasalahan dalam artikel ini adalah
mengnai bagaimana berkomunikasi dengan seseorang yang menutup jati dirinya.
C. PEMBAHASAN
1.
Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran
yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri antara self dengan God.
Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari
individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi
pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri
dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat
menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri
pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran
(awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh
komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi,
maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena
pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak
persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan
ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi
intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi
diantaranya adalah; berdo'a,
bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani
kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi
secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini
berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita.
Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita
selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri
pribadi ini.
Kesadaran pribadi (self
awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik
dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri,
proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita
yang berbeda beda (multiple selves).
2. Identitas diri yang berbeda
Identitas berbeda atau multiple
selves adalah seseorang kala ia melakukan berbagai aktivitas, kepentingan,
dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi, kita
memiliki dua diri dalam konsep diri kita.
·
Pertama
persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain
terhadap kita (meta persepsi).
·
Identitas
berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat
bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian
lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri)
Contohnya saat orang gemuk berusaha
untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia
idealkan.
3. Sulitnya seseorang yang menutup jati dirinya untuk berkomunikasi dengan orang lain
Dalam
kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan berbagai macam karakter
manusia, salah satu objek yang akan penulis bahas yaitu seseorang yang menutup
jati dirinya dengan mengutarakan sesuatu yang bukan jati dirinya yang
sebenarnya.
Sehingga
objek ini menciptakan fantasi tentang dirinya yang lain, dan biasanya objek
memanipulasi lingkungan disekelilingnya dalam berkomunikasi, dan objek tersebut
lebih senang dengan kehidupan yang dibuatnya dibandingkan kehidupan nyatanya.
Menurut
Nurani Soyomukti dalam buku memahami
filsafat cinta “orang seperti itu bisa dikatakan terlalu peduli pada dunia
yang dia buatnya karena ia merasa dunia nyatanya tidak memperhatikannya”.
Dengan kata lain ia lebih nyaman dengan fantasi yang ia buat, sehingga dia
melupakan orang-orang yang nyata dalam kehidupannya.
Orang
seperti ini selalu menutup dirinya dari orang-orang yang ingin mendekatinya
atau orang-orang yang ingin mengenalinya lebih dalam, bisa dibilang orang ini
sulit membuka dirinya dengan orang lain sehingga dia sulit mengungkapkan apa
yang sebenarnya terjadi dalam dirinya, kehidupanya itu damai tapi gersang kita melihat dia tenang tapi dalam dirinya
begitu rapuh, lantaran sulitnya ia mengungkapakan masalah yang sedang ia
hadapi. Seseorang yang sulit berkomunikasi dengan orang lain bisa dibilan
autis, seperti yang dikatakan Nurani Soyomukti “ganngguan komunikasi dalam anak
autis adalah gangguan komunikasi dengan orsng lain(interpersonal), dan bukan
dengan dirinya. beberapa ciri dalam hal komunikasi pada anak autis antara lain
:
·
Perkembangan
bahasa yang lambat;
·
Terlihat
seperti memiliki masalah pendengaran dan tidak memerhatikan apa yang dikatakan
oleh orang lain;
·
Jarang
berbicara;
·
Sulit
untuk di ajak bicara;
·
Kadang
bisa mengatakan sesuatu, namun hanya sekedar saja;
·
Perkataan
yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan;
·
Mengeluarkan
bahasa yang tidak dipahami oleh orang lain;
·
Meniru
perkataan atau pembicaraan orang lain (echolalia);
·
Dapat
meniru kalimat atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya;
·
Suka
menarik tangan orang lain bila meminta sesuatu;
·
Sering
menghindari kontak mata dan sering menghindar dari pandangan orang lain; dan
·
Tidak
suka bermain dengan temannya dan sering menolak ajakan mereka; suka memisahkan
diri dan suka duduk memojok. Nurani Soyomukti (2010)
4. Komunikasi terbuka vs tertutup dan Langsung vs tidak Langsung
Komunikasi bisa terbuka atau tertutup
dan langsung atau tidak langsung (Epstein, Bishop, Ryan, Miller, & Keitner,
1993). Komunikasi yang terbuka terjadi ketika pesan yang diucapkan dengan jelas
dan isi yang mudah dimengerti oleh anggota keluarga lainnya. Komunikasi
tertutup terjadi ketika pesan tersebut membingungkan atau samar.
Komunikasi adalah langsung jika orang
berbicara adalah orang untuk siapa pesan ini ditujukan. Sebaliknya, komunikasi
tidak langsung jika pesan tidak ditujukan kepada orang untuk siapa itu
ditujukan.
Epstein
et al. (1993) telah mengidentifikasi empat gaya berikut komunikasi.
1.
Terbuka dan langsung :
Komunikasi Jelas dan langsung komunikasi adalah bentuk yang paling sehat
komunikasi dan terjadi ketika pesan dinyatakan dengan jelas dan langsung ke
anggota keluarga yang sesuai. Contoh dari gaya komunikasi ini adalah ketika
seorang ayah, kecewa tentang anaknya gagal untuk menyelesaikan tugas nya,
menyatakan, “Nak, aku kecewa bahwa Anda lupa untuk mengambil sampah hari tanpa
saya harus mengingatkan Anda.”
2.
Terbuka dan Tidak Langsung Komunikasi : Dalam
gaya kedua dari komunikasi, pesannya jelas, tetapi tidak diarahkan kepada orang
untuk siapa itu ditujukan. Menggunakan contoh sebelumnya, sang ayah mungkin
berkata, “Ini mengecewakan ketika orang lupa untuk menyelesaikan tugas-tugas
mereka.” Dalam pesan ini anak mungkin tidak tahu bahwa ayahnya adalah mengacu
kepadanya.
3.
Komunikasi Tidak Jelas dan
langsung : Komunikasi tidak jelas dan langsung
terjadi ketika isi pesan tidak jelas, tetapi diarahkan ke anggota keluarga yang
sesuai. Sang ayah dalam contoh kita mungkin mengatakan sesuatu seperti, “Nak,
orang hanya tidak bekerja sekeras mereka dulu.”
4.
Komunikasi Tidak Jelas dan Tidak
Langsung : Komunikasi tidak jelas dan tidak langsung
terjadi ketika kedua pesan dan si penerima tidak jelas. Dalam hubungan keluarga
yang tidak sehat, komunikasi cenderung sangat tertutup dan tidak langsung.
Contoh dari jenis komunikasi ini mungkin menjadi ayah yang menyatakan, “Para
pemuda saat ini sangat malas.”
Sikap terbuka (open mindedness) amat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan komunikasi yang efektif. Lawannya: dogmatisme. Mari kita lihat bagaimana karakteristik orang yang
bersikap terbuka dikontraskan dengan karakteristik orang tertutup (dogmatis)
yang saya ramu dari buku Psikologi Komunikasi – nya Jalaluddin Rahmat, dalam
daftar berikut ini.
a.
Sifat
Orang Yang Terbuka
Pertama, seorang yang bersifat terbuka biasanya menilai
pesan secara obyektif, dengan menggunakn data dan keajegan logika. Kedua, orang
terbuka rata-rata lebih mampu membedakan sesuatu dengan mudah, mampu melihat
nuansa-nuansa. Ketiga, orang yang bersifat terbuka lebih banyak berorientasi
pada isi (content) ketimbang orangnya, bungkus atau polesan-polesannya. Keempat,
orang ini mau mencari informasi dari berbagai sumber, tidak hanya puas dengan
satu nara sumber. Kelima, ia lebih profesional dan bersedia tanpa malu-malu dan
tanpa khawatir bersedia untuk mengubah kepercayaannya, keyakinannya,
pendapatnya, jika memang itu terbukti salah.Pojok Pedia
b.
Sifat
Mereka Yang Tertutup
Pertama, ia suka menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Orang
dogmatis tidak akan memperhatikan logika suatu proposisi, ia lebih banyak
melihat dan membaca sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dengan dirinya.
Argumentasi yang obyektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-mentah.
“Pokoknya aku tidak percaya” begitu sering diucapkan orang dogmatis. Setiap
pesan akan dievaluasikan berdasarkan desakan dari dalam diri individu (inner
pressures). Rokeach menyebut desakan ini, antara lain, kebiasaan, kepercayaan,
petunjuk perseptual, motif ego irasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk
membesarkan diri. Orang tua dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan
perubahan lingkungan.
Kedua, cara berpikirnya simplistis. Bagi orang dogmatis,
dunia ini hanya hitam dan putih, tidak ada kelabu. Ia tidak sanggup membedakan yang
setengah benar setengah salah, yang tengah-tengah. Baginya kalau tidak salah,
ya benar. Tidak mungkin ada bentuk antara. Dunia dibagi dua: yang pro-kita
dimana segala kebaikan terdapat, dan kontra-kita dimana segala kejelekan
berada.
Ketiga, lebih banyak berorientasi pada sumber. Bagi orang
dogmatis yang paling penting ialah siapa yang berbicara, bukan apa yang
dibicarakan. Ia terikat sekali pada otoritas yang mutlak. Ia tunduk pada
otoritas, karena seperti umumnya orang dogmatis ia cenderung lebih cemas dan
mempunyai rasa tidak aman yang tinggi. Keempat, kalau ia mencari informasi ia
akan mencari dari sumber-sumbernya sendiri. Orang-orang dogmatis hanya
mempercayai sumber informasi mereka sendiri. Mereka tidak akan meneliti tentang
orang lain dari sumber yang lain. Pemeluk aliran agama yang dogmatis hanya
mempercayai penjelasan tentang keyakinan aliran lain dari sumber-sumber yang
terdapat pada aliran yang dia anut.
Kelima, secara kaku mempertahankan dan membela sistem
kepercayaannya. Berbeda dengan orang terbuka yang menerima kepercayaannya
secara provisional, orang dogmatis menerima kepercayaannya secara mutlak. Orang
dogmatis kuatir, bila satu butir saja dari kepercayaanya yang berubah, ia akan
kehilangan seluruh dunianya. Ia akan mempertahankan setiap jengkal dari wilayah
kepercayaanya sampai titik darah penghabisan.
Dan yang terakhir, ia tak mampu membiarkan inkonsistensi.
Orang dogmatis tidak tahan hidup dalam suasana inkonsisten. Ia menghindari
kontradiksi atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisten dengan
desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama
sekali.
Nah, agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan
melahirkan hubungan interpersonal yang efektif, dogmatisme harus digantikan
dengan sikap terbuka. Tentu, bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap
sportif. Sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling
menghargai, dan yang paling penting saling mengembangkan kualitas hubungan kita
sendiri.
6.
Efektifitas
Komunikasi Dengan Anak Yang Menutup Jati Diri
Harus
juga bisa menjadikan seseorang terbangun untuk mengenal dunia luarnya. Dan ini dikarenakan komunikasi
merupakan modal besar dalam meraih cita cita dari siapapun yang ingin sukses.
Lalu bagaimana dengan anak yang jati diri? Bisakah anak jati diri bisa
berkomunikasi secara efektif?
Akan halnya,
mendapati anak yang tidak terbuka atau cenderung pendiam dan tertutup
(introver) terkadang membuat orang tua, guru, bahkan teman-temannya keki.
Diajak ngobrol, diam. Didiamkan, tambah diam. Serba salah dan bingung. Biasanya
akan semakin membingungkan ketika si anak introver ini mendapatkan masalah,
baik di sekolah maupun di rumah.
Penanganannya
terasa lebih sulit dibandingkan menangani masalah anak-anak yang lebih
ekspresif dan terbuka. Banyak penyebab mengapa anak-anak introver tidak mau
berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain, di antaranya:
1.
Ada
ketakutan bahwa orang lain tidak akan mengerti dia.
2.
Perasaan
tidak ingin merepotkan orang lain dengan permasalahannya.
3.
Malu
mengutarakan perasaannya. Takut orang lain akan mentertawakannya.
4.
Merasa
mampu menyelesaikan masalah sendiri.
5.
Takut
dicap bermasalah bila menceritakan masalahnya kepada orang lain.
6.
Tidak
tahu bagaimana cara mengutarakan perasaannya.
Bila mau
berkomunikasi dengan anak introver, kita harus mempunyai urat sabar yang sangat
panjang. Kita harus rela menjadi pengamat yang baik. Ketika anak introver ini
sudah mulai terbuka, kita harus menjadi pendengar yang sangat setia. Bila
tidak, maka biasanya anak introver ini tidak akan percaya lagi dengan kita. Dia
akan semakin menjadi pendiam dan tertutup.
Teknik yang
dipakai untuk mendapatkan komunikasi yang efektif dengan anak introver, antara
lain:
1.
Ajaklah
si anak menggambar. Anda pun ikut menggambar. Lakukan aktivitas ini bersama-sama
sehingga ketika Anda bertanya tentang apa yang dia gambar, pancinglah dia untuk
bertanya juga tentang apa yang sedang Anda gambar. Hal ini akan membuat dia
nyaman dan merasa bahwa diapun bisa dan boleh bertanya.
2.
Perhatikanlah
goresan-goresan tangannya. Mulailah bertanya dari setiap gambar yang ada.
Buatlah pertanyaan itu menuntun ke arah permasalahan yang sedang dihadapi oleh
sang anak. Bila dirasa sulit untuk memancing pertanyaan, Anda bisa mulai
bercerita sedikit tentang gambar yang Anda buat.
3.
Suruhlah
si anak untuk membuat cerita dari gambar yang sudah dibuatnya tadi. Bila si
anak tidak bisa membuat cerita, suruhlah ia untuk membuat puisi tentang gambar
tersebut.
4.
Bila
perlu buatlah gambar tandem. Anda berdua menggambar pada bidang yang sama dan mulai
komunikasi mau menggambar apa. Agar anak tidak merasa menjadi objek, terkadang
Anda yang mengambil inisiatif mau manggambar apa. Lalu, mulailah membuat cerita
sesistematik mungkin sehingga membuat anak tanpa sadar menceritakan masalah
yang sedang dihadapinya.
5.
Selain
menggambar, ajaklah anak jalan-jalan. Lalu mulailah pembicaraan tentang apa
yang sedang dilihat atau berilah keterangan sedikit tentang lingkungan di
sekitar. Setelah itu, tanyakan apa pendapat anak mengenai tempat tersebut.
6.
Aktivitas
berenang, main game bersama, atau mengikuti kebiasaan si anak introver, bisa
juga menjadi awal membuka percakapan.
Dari poin-poin
di atas, Anda akan memperoleh efektifitas komunikasi saat berinteraksi dengan
anak introver.
a.
Pahami Jati diri
bukan Beban Bawaan
Menutup
jati diri sering disalahpahami menjadi antisosial. Meskipun istilah 'menutup
diri' dan 'antisosial' digunakan secara sinonim, mereka berbeda dalam maknanya.
Dalam rangka untuk membantu anak jati diri membuat teman-teman di sekolah,
adalah penting untuk memahami sifat dasar mereka.
Beberapa
anak merasa sangat mudah untuk membuat teman-teman, membuat keramaian dan
menemukan cara untuk bergaul. Anak ekstrovert tidak perlu banyak usaha.
Sebaliknya, beberapa anak memilih untuk membaca buku, bermain sendiri, menonton
TV dan bermain game sendirian daripada lebih bersosialisasi dengan orang lain.
Yang
terakhir itu sebenarnyatidak menjadi pemalu, tapi mereka hanya memiliki
preferensi sosial yang berbeda. Tindakan isolasi sukarela menjadi tantangan
terbesar bagi yang jati diri dalam membuat sendiri suatu suasana akrab dengan
teman-teman nya. Namun, jika sifat-sifat yang diubah pada usia yang lebih muda,
itu akan membantu anak Anda pada ke depannya.
b.
Mencoba Membuka
Komunikasi
Titik
awal dari segala jenis sosialisasi adalah pembicaraan kecil. Ini adalah cara melampaui saat awal
kecanggungan dan percakapan mencolok. Dengan anak-anak, yang dibutuhkan adalah
belajar ucapan sederhana 'apa kabar untuk memulai pembicaraan kecil. Namun,
untuk anak jati diri, membuat langkah komunikasi pertama sangat mengerikan. Mengajar
anak Anda beberapa trik sederhana dari dan komunikasi efektif melalui obrolan
ringan adalah awal yang baik untuk membantu dia menemukan teman-teman di
sekolah baru. Salam teman sekelas dengan senyum, sederhana 'halo' atau berharap
dibantu guru adalah cara yang baik untuk membuat pembicaraan kecil.
c.
Bermain
Setelah
Anda telah memperkenalkan anak Anda untuk sekedar belajar basa basi, penting
juga untuk menunjukkan penerapannya. Berlatih dengan tetangga Anda,
teman-teman, di rumah dan dengan kerabat adalah awal yang baik untuk membuat
anak Anda berbicara di depan umum. Role play adalah ide bagus untuk membujuk
anak Anda untuk keluar dari tempurngnya sendiri.
Buat skenario dari 'hari pertama
sekolah' di rumah, dimana anggota keluarga lainnya harus berpura-pura menjadi
teman sekelas dan guru baru. Berikan waktu anak Anda untuk menilai situasi dan
mengasimilasi gagasan mendekati orang asing. Berlatih tindakan dalam simulasi
membantu dalam menangkap teknik dan membangun kepercayaan diri.
d.
Mendorong Hobi
dan Minat
Rasa
ingin tahu anak Anda untuk mengeksplorasi, belajar dan menyempurnakan hal-hal
baru adalah aset terbesar Anda dalam membantu dia membuat teman-teman baru di sekolah. Mendorong
anak jati diri menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti
kompetisi tari, paduan suara, kelas melukis, pesta kostum, hari ulang tahunan
dan olahraga akan mengekspos anak Anda bergaul dengan beberapa anak dari
berbagai latar belakang dan dari berbagai usia.
e.
Berharap Teman
Baik
Beberapa
anak-anak cenderung membuat banyak teman-teman, sementara beberapa yang
selektif tentang diri mereka. Seorang anak yang jati diri cenderung menjadi
yang terakhir, karena mereka lebih memilih berkawan hanya beberapa teman.
Anak Jati diri
lebih memilih beberapa teman dekat, yang bisa sejalan dalam pemahaman dan sama
sama mirip dengan sifat bawaan mereka bersama. Memiliki lingkaran teman-teman
erat lebih penting untuk anak jati diri, daripada memiliki segerombolan teman-teman
dan kenalan di sekelilingnya. Setelah anak Anda menemukan beberapa teman,
jangan mendorong lebih lanjut. Berikan waktu anak Anda dan memungkinkan dia
punya kebebasan menjudge sendiri dalam membuat persahabatan. Membantu anak jati
diri dalam konteks efektifitas
komunikasi adalah, membuat teman-teman di sekolah dapat tampak seperti kulit
kacang yang keras namun bisa dipecahkan dengan sedikit keberanian. Dibutuhkan
banyak kesabaran dan pengertian sebagai orang tua untuk mendorong anak Anda
untuk masuk ke dalam lingkaran sosial. Meskipun memiliki teman, anak jati diri
masih akan memilih aktivitas penyendiri selama bermain di luar. Sambil membantu
anak Anda membuat teman-teman, sangat penting bahwa Anda hanya mendorong dan
tidak memaksa. Menjadi empati terhadap kecenderungan bawaan anak Anda, adalah
penting.
D.
KESIMPULAN
Jadi
kita telah samapai pada bagian akhir, karena inilah saatnya untuk melihat
kembali bagian pengantar dari artikel ini, bagaimana kita mulai melakukan
pendekatan melaui komunikasi antarpribadi.
Fokusnya
pada peranan komunikasi didalam membuat dam memelihara nilai-nilai dan pada
bagian dan pada bagian nilai-nilai tersebut bisa membuat komunikasi memiliki
makna. Ketertarikan Saussure dan Peirce pada sifat dasar tanda itu sendiri
bukan pada bagaimana tanda ditransmisikan, menunjukan perubahan focus
pembahasan. Artikel ini tidak memiliki konsep kegagalan komunikasi dan tidak
terlalu memikirkan efisiensi dan akurasi.
Untuk
berkomunikasi dengan seseorang yang menutup jati dirinya kita harus memahami apa
sebenarnya yang membuat seseorang menutupi jati dirinya yang sesungguhnya. Kita
juga perlu mengetahui cara mendekati orang yang berprilaku seperti itu, kita
harus memiliki wawasan yang luas agar dalam melakukan hubungan komunikasi
dengan objek kita tidak kehabisan bahan pembicaran.
Jika
kita sudah melakukan pendekatan seperti itu, kemudisn kita melakukan komunikasi
secara interaktif kedalaman dan keluasan pembahasan secara pribadi agar dapat
mengetahui lebih banyak tentang kepribadian objek tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
John Fiske (2012) Pengantar Ilmu Komuniksi, Jakarta
: Rajawali pers
Prof. Drs. H.A.W. Widjaja (2008) komunikasi &
hubungan masyarakat, Jakarta : Bumi Aksara
Nurani Soyomukti (2008) memahami filsafat cinta,
Surabaya : Prestasi-pustaka
Nurani Soyomukti (2010) Pengantar Ilmu Komunikasi,
Jogjakarta : ar-rizz-media
Najib al-kailani (2007) Ketika cinta bersujud,
Jakarta : Zikrul hakim






