Groupthink didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan
yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan
melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada.
Groupthink merupakan hasil langsung dari kohesivitas
kelompok yang pertama kali dibahas secara mendalam oleh Kurt Lewin sekitar
tahun 1930 dan sejak saat itu menjadi sebuah variable penting dalam
keefektifitasan kelompok. Kohesivitas adalah sebuah tingkatan dari ketertarikan
antar sesama anggota dalam kelompok.
Kohesivitas merupakan sebuah hasil dari sejauh mana anggota
kelompok merasa bahwa tujuan mereka dapat dipenuhi di dalam kelompok. Hal ini
tidak membutuhkan kesamaan sikap, namun setiap anggota dari kelompok tersebut
saling bergantung satu sama lainnya untuk mencapai tujuan bersama yang
diinginkan. Semakin tinggi tingkat kohesivitas dalam suatu kelompok, semakin
tinggi tekanan yang diberikan kepada setiap anggota.
Kohesivitas dapat menjadi sesuatu yang baik karena membawa
anggota kelompok dalam satu kesatuan dan meningkatkan hubungan antar pribadi.
Meskipun Janis tidak menyangkal akan kebaikan dari kohesivitas, namun Ia
menyadari akan bahayanya. Salah satunya adalah, tingginya tingkat kohesivitas
pada suatu kelompok dapat memungkinkan anggotanya untuk memberikan energi yang
lebih banyak dalam rangka menjaga keutuhan kelompok agar tidak retak ketika
mereka membuat keputusan bersama. Terkadang hal ini dilakukan agar mereka
diakui dalam kelompoknya.
Konflik yang terjadi pada kelompok yang mempunyai tingkat
kohesivitas rendah biasanya adalah perdebatan dan perseteruan mengenai suatu
masalah.
Janis > groupthink dapat menghasilkan 6 hal yang tidak
baik :
1. Kelompok membatasi pembahasan mereka
hanya pada beberapa alternatif tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain.
Solusinya mungkin tampak nyata dan sederhana bagi kelompok, dan hanya sedikit
eksplorasi mengenai ide lainnya.
2. Pendapat yang awalnya disukai oleh
sebagian besar anggota tidak pernah dipelajari ulang untuk melihat adanya
kemungkinan kesalahan. Dengan kata lain, kelompok tidak kritis dalam
mempelajari suatu masalah untuk menemukan solusinya. (tidak ada evaluasi)
3. Kelompok tidak berhasil mempelajari
pendapat yang awalnya tidak disukai oleh mayoritas. Pendapat minoritas secara
langsung ditolak dan dihindari.
4. Kelompok tidak berusaha untuk
mencari pendapat ahli. Mereka merasa puas dengan diri mereka sendiri dan merasa
terancam dengan orang luar.
5. Kelompok menyeleksi berbagai
informasi. Mereka lebih berkonsentrasi pada apa yang mendukung ide mereka.
6. Kelompok merasa percaya diri dengan
ide yang mereka miliki tanpa memikirkan rencana cadangan. Tidak peduli apakah
ide mereka berjalan dengan baik ataupun tidak.
Semua ini merupakan hasil dari kurangnya informasi dan rasa
percaya diri yang tinggi akan kelompoknya.
Janis mengemukakan bahwa groupthink ditandai dengan beberapa
gejala :
1. ilusi ketangguhan yang tercipta karena adanya sikap
optimistis yang tinggi. Ada pengertian yang begitu kuat mengatakan bahwa “Kami
tahu apa yang kami lakukan jadi jangan mengacaukan keadaan”.
2. kelompok menciptakan usaha kolektif
untuk merasionalisasikan tindakan yang telah mereka putuskan.
3. kelompok mempertahankan keyakinan
yang tidak dapat dibantahkan dalam moralitas yang terkandung di dalamya,
melihatnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan demi mencapai hasil yang
diinginkan.
4. orang luar dipandang sebagai orang
yang jahat, lemah dan tidak mengerti apa – apa.
5. tekanan langsung diberikan pada setiap anggota bukan
untuk mengungkapkan opini yang bertentangan. Perbedaan pendapat dengan cepat
dimusnahkan, dan ini mengarah pada gejala yang keenam yaitu
6. penyensoran diri dari perselisihan.
7. ilusi bahwa semua anggota kelompok
sepakat dan bersuara bulat
8. otomatis menjaga mental untuk
mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini
dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).
Hal-hal
yang perlu dilakukan untuk menghindari efek negatif dari groupthink adalah
sebagai berikut:
1. Menyampaikan secara terbuka mengenai
kemungkinan tumbuhnya pikiran kelompok dengan sengaja konsekuensinya.
2. Ditekankan perlu adanya keberpihakan
atas posisi yang lain.
3. Meminta evaluasi secara kritis dari
setiap anggota, dengan memberikan dorongan dan menguraikan keraguan.
4. Tunjuk satu atau dua orang untuk
menjadi kritikus kelompok.
5. Saat tertentu kelompok perlu dipecah
menjadi lebih kecil dan efektif, dan saat kemudian dikembalikan seperti semula
untuk memperoleh peran yang maksimal dari setiap anggota.
6. Menyediakan cukup waktu untuk
mempelajari keberadaan kelompok lain (saingan), dengan mengidentifikasi
tanda-tanda atau pernyataan-pernyataan ataupun kemungkinan lainnya yang dinilai
membahayakan.
7. Setelah keputusan sementara dicapai,
dimintakan kepada anggota untuk mengevaluasi kembali dalam kesempatan yang
berbeda.
8. Menyediakan waktu untuk mengundang
pakar-pakar dalam menghadiri pertemuan kelompok, guna mengkritisi atau menolak
pandangan kelompok.
9. Membuka kemungkinan adanya anggota
kelompok untuk selalu mendiskusikan secara terbuka di forum lain, dengan
catatan hasilnya semata-mata untuk kelompok.
10. Membuat
beberapa kelompok yang bebas tidak saling bergantung (independent), untuk
bekerja secara bersama dalam memecahkan suatu persoalan.
Faktor – faktor determinan yang terdapat pada pikiran
kelompok, yaitu :
1. Faktor Anteseden
Kalau
hal – hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka
keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi, kalau hal
– hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan
yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.
2. Faktor Kebulatan Suara
Kelompok
yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran
kelompok, daripada yang menggunakan sistem suara terbanyak.
3. Faktor Ikatan Sosial – Emosional
Kelompok
yang ikatan sosial – emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran
kelompok, sedangkan kelompok yang ikatannya legas dan berdasarkan tegas belaka
cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.
4. Toleransi Terhadap Kesalahan
Pikiran
kelompok lebih besar kalau kesalahan – kesalahan dibiarkan daripada tidak ada
toleransi atau kesalahan – kesalahan yang ada.







0 komentar:
Posting Komentar