Selasa, 23 Juni 2015

Groupthink


Disini kita akan melihat salah satu dari teori Janis yang lebih sering dikenal sebagai Hipotesis Groupthink. Janis menguji beberapa rincian mengenai pembuatan keputusan dalam kelompok. Dengan menekankan pada pemikiran kritis, Ia menunjukkan bagaimana kondisi tertentu dapat mengarah kepada tingginya kepuasan suatu kelompok namun dengan hasil yang tidak efektif.
Groupthink didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada.
Groupthink merupakan hasil langsung dari kohesivitas kelompok yang pertama kali dibahas secara mendalam oleh Kurt Lewin sekitar tahun 1930 dan sejak saat itu menjadi sebuah variable penting dalam keefektifitasan kelompok. Kohesivitas adalah sebuah tingkatan dari ketertarikan antar sesama anggota dalam kelompok.
Kohesivitas merupakan sebuah hasil dari sejauh mana anggota kelompok merasa bahwa tujuan mereka dapat dipenuhi di dalam kelompok. Hal ini tidak membutuhkan kesamaan sikap, namun setiap anggota dari kelompok tersebut saling bergantung satu sama lainnya untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan. Semakin tinggi tingkat kohesivitas dalam suatu kelompok, semakin tinggi tekanan yang diberikan kepada setiap anggota.
Kohesivitas dapat menjadi sesuatu yang baik karena membawa anggota kelompok dalam satu kesatuan dan meningkatkan hubungan antar pribadi. Meskipun Janis tidak menyangkal akan kebaikan dari kohesivitas, namun Ia menyadari akan bahayanya. Salah satunya adalah, tingginya tingkat kohesivitas pada suatu kelompok dapat memungkinkan anggotanya untuk memberikan energi yang lebih banyak dalam rangka menjaga keutuhan kelompok agar tidak retak ketika mereka membuat keputusan bersama. Terkadang hal ini dilakukan agar mereka diakui dalam kelompoknya.
Konflik yang terjadi pada kelompok yang mempunyai tingkat kohesivitas rendah biasanya adalah perdebatan dan perseteruan mengenai suatu masalah.
Janis > groupthink dapat menghasilkan 6 hal yang tidak baik :
1.      Kelompok membatasi pembahasan mereka hanya pada beberapa alternatif tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain. Solusinya mungkin tampak nyata dan sederhana bagi kelompok, dan hanya sedikit eksplorasi mengenai ide lainnya.
2.      Pendapat yang awalnya disukai oleh sebagian besar anggota tidak pernah dipelajari ulang untuk melihat adanya kemungkinan kesalahan. Dengan kata lain, kelompok tidak kritis dalam mempelajari suatu masalah untuk menemukan solusinya. (tidak ada evaluasi)
3.      Kelompok tidak berhasil mempelajari pendapat yang awalnya tidak disukai oleh mayoritas. Pendapat minoritas secara langsung ditolak dan dihindari.
4.      Kelompok tidak berusaha untuk mencari pendapat ahli. Mereka merasa puas dengan diri mereka sendiri dan merasa terancam dengan orang luar.
5.      Kelompok menyeleksi berbagai informasi. Mereka lebih berkonsentrasi pada apa yang mendukung ide mereka.
6.      Kelompok merasa percaya diri dengan ide yang mereka miliki tanpa memikirkan rencana cadangan. Tidak peduli apakah ide mereka berjalan dengan baik ataupun tidak.
Semua ini merupakan hasil dari kurangnya informasi dan rasa percaya diri yang tinggi akan kelompoknya.
Janis mengemukakan bahwa groupthink ditandai dengan beberapa gejala :
1.      ilusi ketangguhan yang tercipta karena adanya sikap optimistis yang tinggi. Ada pengertian yang begitu kuat mengatakan bahwa “Kami tahu apa yang kami lakukan jadi jangan mengacaukan keadaan”.
2.      kelompok menciptakan usaha kolektif untuk merasionalisasikan tindakan yang telah mereka putuskan.
3.      kelompok mempertahankan keyakinan yang tidak dapat dibantahkan dalam moralitas yang terkandung di dalamya, melihatnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan demi mencapai hasil yang diinginkan.
4.      orang luar dipandang sebagai orang yang jahat, lemah dan tidak mengerti apa – apa.
5.      tekanan langsung diberikan pada setiap anggota bukan untuk mengungkapkan opini yang bertentangan. Perbedaan pendapat dengan cepat dimusnahkan, dan ini mengarah pada gejala yang keenam yaitu
6.      penyensoran diri dari perselisihan.
7.      ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat
8.      otomatis menjaga mental untuk mencegah atau  menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menghindari efek negatif dari groupthink adalah sebagai berikut:
1.      Menyampaikan secara terbuka mengenai kemungkinan tumbuhnya pikiran kelompok dengan sengaja konsekuensinya.
2.      Ditekankan perlu adanya keberpihakan atas posisi yang lain.
3.      Meminta evaluasi secara kritis dari setiap anggota, dengan memberikan dorongan dan menguraikan keraguan.
4.      Tunjuk satu atau dua orang untuk menjadi kritikus kelompok.
5.      Saat tertentu kelompok perlu dipecah menjadi lebih kecil dan efektif, dan saat kemudian dikembalikan seperti semula untuk memperoleh peran yang maksimal dari setiap anggota.
6.      Menyediakan cukup waktu untuk mempelajari keberadaan kelompok lain (saingan), dengan mengidentifikasi tanda-tanda atau pernyataan-pernyataan ataupun kemungkinan lainnya yang dinilai membahayakan.
7.      Setelah keputusan sementara dicapai, dimintakan kepada anggota untuk mengevaluasi kembali dalam kesempatan yang berbeda.
8.      Menyediakan waktu untuk mengundang pakar-pakar dalam menghadiri pertemuan kelompok, guna mengkritisi atau menolak pandangan kelompok.
9.      Membuka kemungkinan adanya anggota kelompok untuk selalu mendiskusikan secara terbuka di forum lain, dengan catatan hasilnya semata-mata untuk kelompok.
10.  Membuat beberapa kelompok yang bebas tidak saling bergantung (independent), untuk bekerja secara bersama dalam memecahkan suatu persoalan.
Faktor – faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok, yaitu :
1.      Faktor Anteseden
Kalau hal – hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi, kalau hal – hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.
2.      Faktor Kebulatan Suara
Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, daripada yang menggunakan sistem suara terbanyak.
3.      Faktor Ikatan Sosial – Emosional
Kelompok yang ikatan sosial – emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok, sedangkan kelompok yang ikatannya legas dan berdasarkan tegas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.
4.      Toleransi Terhadap Kesalahan
Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan – kesalahan dibiarkan daripada tidak ada toleransi atau kesalahan – kesalahan yang ada.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com