Selasa, 23 Juni 2015

Sejarah Ilmu komunikasi





Jurusan Ilmu komunikasi sebagai bagian integral dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, menghasilkan sarjana strata satu (S1) yang diharapkan memiliki bekal; kemampuan mengumpulkan, mengelola dan menganalisis berbagai informasi penting dalam rangka pembangunan nasional khususnya mengikuti pola Ilmiah pokok dengan mengarahkan perhatian pada masyarakat maritim. Jurusan ilmu komunikasi mengelola beberapa program studi antara lain: Jurnalistik (kewartawanan), Publik relations (Kehumasan), dan Penyiaran.  Secara legalitas yang dimiliki program studi Ilmu Komunikasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri PP & K RI Tanggal 30 Januari 1961 Nomor A/4692/U.U/5/1961, mengenai ketentuan Perguruan Tinggi Tata Praja sesudah penegeriannya itu, program studi di dalamnya, yaitu program studi Tata Praja (Public Administration) dan program studi Publisistik. Adapun program studi Publisistik ini merupakan peralihan dari Perguruan Tinggi Pers & Publisistik Sulawesi, yang sebelumnya didirikan di Makassar oleh sebuah Yayasan atas dorongan dan bantuan penuh Panglima Brigjen M. Yusuf.
Tahun 1960-an di Makassar berdiri sebuah perguruan tinggi swasta Perguruan Tinggi yang bernama “Pers dan Publisiteit”. Kehadirannya diawali dengan A.S Achmad dan Abdullah Suara, mulai memelopori gerakan yang menginginkan adanya normalisasi akademik. Maka berdirilah perguruan tinggi “Pers dan Publisiteit”. Sulawesi. Sejumlah mata kuliah disusun, tujuan pendiriannya pun ditetapkan. Yakni berusaha menghasilkan kader wartawan yang berpendidikan tinggi. Sosok A.S Ahmad dan Abdullah Suara adalah tokoh yang memelopori, juga sekaligus langsung menjadi mahasiswa. Pada saat itu jumlah mahasiswa sangat besar sebanyak 100 orang. Keseriusan untuk menggali profesi kewartawanan ternyata Panglima M Yusuf kala itu juga sudah menyelesaikan izin di pusat untuk membuka Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, sehingga perguruan tinggi Pers dan Publisiteit dilebur ke dalam Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, dan menjadi program studi publisistik. Jadi mahasiswa yang dulunya berstatus PTS resmi menjadi mahasiswa Fakultas Sospol program studi Publisistik yang pertama kali dipimpin oleh G.R. Pantouw (yang juga bekas menteri penerangan NIT). Demikianlah dalam perkembangannya program studi Publisistik di bawah naungan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (yang kini berubah nama menjadi program studi Ilmu Komunikasi), pada awalnya mengembangkan tiga program studi yakni Jurnalistik, Kehumasan dan Penerangan. Namun sekarang telah berkembang menjadi tiga kajian kekhususan studi Jurnalistik, Publik Relations, dan Komunikasi Bisnis. Awalnya program studi ini dibina oleh sejumlah dosen antar disiplin termasuk Arnold Monohutu, Prof. Dr. H.A. Muis, SH, dan sejumlah nama lainnya.
A.S Ahmad dan Baharuddin DM, juga diangkat sebagai dosen yang pertama lewat program studi Komunikasi yang ingin membentuk tenaga-tenaga penerangan pembangunan, jurnalistik dan kehumasan, agar upaya meningkatkan mutu tenaga dosen senantiasa mendapat prioritas dan diperhatikan. Langkah strategis yang dilakukan adalah mengirimkan sejumlah dosen ke program lanjutan dengan jenjang tingkat pendidikan yang lebih tinggi untuk menghasilkan tenaga-tenaga dosen yang berkualitas di bidang Ilmu Komunikasi. Hal tersebut sampai sekarang telah menjadi prioritas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Pada dasarnya jati diri, visi, misi, sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh program studi Ilmu Komunikasi didasarkan pada jati diri, misi, misi, sasaran dan tujuan universitas Hasanuddin sebagai induk dari program studi ini seperti termaktub dalam STATUTA UNHAS Bab II (pasal 3, pasal 4, pasal 5) dan Bab III pada pasal 6.
Kekuatan utama yang dimiliki program studi Ilmu Komunikasi sebagai bagian integral dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, adalah membina mahasiswa sebanyak 335 orang termasuk mahasiswa baru angkatan 2006. Data tersebut merupakan jumlah mahasiswa terbesar kedua setelah program studi Ilmu Politik Pemerintahan. Mahasiswa tersebut masuk dalam pengelolaan program studi Ilmu Komunikasi yang secara integral mengelola tiga kekhususan studi, yaitu Hubungan Masyarakat, Jurnalistik dan Penyiaran (broadcasting).
Kekuatan lain yang tak kalah pentingnya adalah staf pengajar yang dimiliki program studi Ilmu Komunikasi dominan memiliki tingkat kualifikasi pendidikan dari segi teoritis dan segi praktis berjumlah 28 orang, dengan rincian : staf pengajar dengan kualifikasi pendidikan S3 (Doktoral) sebanyak 6 orang, satu di antaranya bergelar Professor, 20 orang kualifikasi pendidikan S2 (Magister), dan 2 orang kualifikasi pendidikan S1. Berdasarkan data yang ada terdapat 5 orang staf pengajar yang masih dalam proses melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni jenjang S2 (Magister) dan S3 (Doktoral). Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas staf pengajar yang lebih kompeten di bidang-bidang spesifik, khususnya dalam kaitannya dengan kajian Ilmu Komunikasi Program studi Ilmu Komunikasi memperoleh status akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi dengan nilai B, mengakibatkan program studi Ilmu komunikasi mampu berkompetisi untuk mendapatkan hibah bersaing selain hibah A1, Menilik peluang yang dimiliki program studi Ilmu Komunikasi adalah kualifikasi staf pengajar dan jumlah mahasiswa yang cukup banyak akan memberikan motivasi dan semangat untuk terus berkembang dan dapat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga-lembaga lainnya yang dapat menambah bobot aktualisasi diri Ilmu Komunikasi.Sedangkan tantangan yang bakal dihadapi adalah perkembangan masyarakat yang begitu cepat sehingga dibutuhkan usaha untuk mengimbangi dinamika tersebut, dengan kondisi sumber daya manusia dan fasilitas yang dimiliki program studi Ilmu Komunikasi diharapkan mampu menjawab tantangan ini dan diperlukan pengkajian yang lebih mendalam terhadap masalah tersebut. Selanjutnya tantangan dalam hal perkembangan teknologi yang berjalan sangat cepat, sehingga visi, misi, sasaran dan tujuan dari program studi harus selalu seimbang, karena disiplin Ilmu Komunikasi bagaikan tiga mata rantai dengan berkembangnya era globalisasi tanpa batas.
Komunikasi merupakan satu dari disiplin-disiplin yang paling tua tetapi yang paling baru. Orang Yunani kuno melihat teori dan praktek komunikasi sebagai sesuatu yang kritis. Sebenarnya sangat sulit untuk mendeteksi kapan dan bagaimana pertama kali dipandang sebagai faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Berdasarkan sejarah, komunikasi diekspresikan dan berperan dalam kehidupan manusia yaitu pada abad 5 SM dalam tulisan klasik bangsa Mesir dan Babilonia dan essay dari Hommer yang berjudul Iliad pada abad 3000 SM. Pada tahun 2675 SM melalui ‘The Precepts” adalah berisi panduan komunikasi efektif. Dan juga tampak pada kitab perjajnjian lama (Bible) ketika Tuhan bersabda :Let there be light:and there was light. Dan juga pada masayarakat Yunani yang melakukan kehidupan demokratis dengan komunikasi oral. 
Ada banyak tokoh–tokoh yang berperan penting dalam studi awal komunikasi, diantaranya adalah Aristoteles dan gurunya Plato. Mereka adalah tokoh sentral dalam studi komunikasi awal ini. Keduanya yang mengibarkan bahwa komunikasi adalah sebuah seni untuk dipraktekkan dan sebagai area studi. Mereka mendeskripsikan komunikasi menjadi suatu orator atau speaker yang memberikan suatu argument untuk dipresentasikan dalam suatu pidato untuk pendengar atau audience. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa munculnya ilmu komunikasi berawal dari ilmu retorika dan pidato. Sebelum menjadi ilmu komunikasi, istilah yang muncul adalah Jurnalistik (Journalism), dalam buku Pengantar Ilmu konukasi dan Jurnalistik dikatakan bahwa  pada tahun 1986 seorang mantan panglima pada perang saudara di Amerika Serikat yang kemudian menjadi rector pada Washington College Robert E. Lee menganjurkan agar tiap tahun disediakan beasiswa untuk 50 orang pemuda untuk studi jurnalistik.  
Kemudian ada lagi seorang wartawan Joseph Pulitzer yang mempunyai cita-cita mendirikan School of Journalism yang akhirnya mendapat tanggapan positif dari Rektor Havard University, yaitu Charles E. Elliot, dan Rektor Columbia University, yaitu Nicholas Murray Butler. Dan kemudian akhirnya berdirilah School of Journalism, akan tetapi setelah diteliti ternyata journalism tidak hanya mempelajari serta meneliti yang bersangkut paut dengan bidang jurnalistik saja, akan tetapi juga yang bersangkutan dengan produk-produk media massa, dari situlah, kemudian istilah journalism berkembang menjadi mass communication. Istilah mass communication inilah yang kemudian diakui lebih tepat untuk digunakan sebab, mass communication ini mencakup keseluruhannya, yaitu tidak saja kegiatan jurnalistik tetapi juga karya-karya lainnya yang disiarkan melalui media massa. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, ternyata istilah mass communication dirasa tidak tepat lagi, karena ternyata tidak merupakan proses yang total. Dari hasil penelitian para ilmuan antara lain adalah Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Hazel Gaudet, menunjukkan bahwa gejala social akibat media massa hanyalah merupakan satu tahap saja, padahal menurut mereka ada tahap selanjutnya yaitu meneruskan pesan dari media massa dengan melalui mulut ke mulut yang impaknya justru sangat besar.

Oleh sebab itu kemudian muncullah istilah baru yang sampai sekarang istilah tersebut  kita kenal dan gunakan, yaitu Communication Science (Ilmu Komunikasi). Demikianlah latar belakang berkembangnya Ilmu komunikasi dunia.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com