BAB I Persepsi
Pengertian persepsi
Pesepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan
menginterpretasilkan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi
lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka
tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.
Faktor-faktor yang
memengaruhi persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain
harapan pengalaman masa lalu, dan keadaan psikologis yang mana mengciptakan
kumpulan perceptual. Selain hal tersebut masih ada beberapa hal yang
mempengaruhi persepsi, yaitu :
1.
Yang paling berpengaruh terhadap
persepsi adalah perhatian, karena perhatian adalah proses mental ketika
stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran, pada saat
stimulus lainnya melemah. Dalam stimulus mempunyai sifat-sifat yang menonjol,
antara lain intesitas dan pengulangan. Diri orang yang membentuk persepsi itu
sendiri. Apa bila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan
interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, dia dipengaruhi oleh
karakteristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap kepentingan,
minat, kebutuhan, pengalaman, harapan dan kepribadian.
2.
Stimulus yang berupa obyek maupun
peristiwa tertentu. Stimulus yang dimaksud mungkin berupa orang, benda atau
peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang
yang melihatnya.
3.
Faktor situasi dimana pembentukan
persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana dll.
Kekonstanan persepsi
Di dalam pembelajaran persepsi kita perlu juga mengenal
tentang kekonstanan persepsi(konsitensi), yaitu persepsi bersifat tetap yang
dipengaruhi oleh pengalaman,. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk,
ukuran, dan warna. Salah satu contoh kekonstanan persepsi, yaitu ketika meminum
susu ditempat yang gelap maka kita tidak akan menyebut warna susu tersebut
hitam, melainkan kita akan tetap menyebut warna susu adlah putih meski didalam
kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.
Teori persepsi hubungan
Teori hubungan adalah usaha ketika individu-individu
mengamati perilaku untuk menentukan apakah hal ini disebabkan secara internal
atau eksternal.
Persepsi selektif
Persepsi selektif adalah menginterpretasikan secara
selektif apa yang dilihat seseorang berdasarkan minat, latar belakang,
pengalaman, dan sikap seseorang.
Efek halo adalah
membuat sebuah gambaran umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah
karakteristik. Ketika membuat kesan umum tentang seorang individu berdasarkan
sebuah karakteristik, seperti kepandain, keramahan, atau penampilan, efek halo
sedang bekerja.
Pembedaan dengan Sensi
Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi.
Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum
diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang baru
berhubungan dengan stimulus tersebut. Misalnya meja yang terasa kasar, yang
berupa sensasi dari rabaan meja. Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang
tidak dapat dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja, yang
kasar, pengelihataan atas meja yang banyak coretan, dan kenagan dimasa lalu
saat memakai meja yang mirip lalu tulisan mejadi enak.
Jenis-jenis persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsangan atau stimulus
diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi menjadi berbagai jenis.
1.
Persepsi visual
Persepsi
visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang
paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk
memahami dunianya. Persepsi visual adalah pokok utama dari bahasan persepsi
secara umum, sakaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam
konteks sehari-hari. Persepsi kaum muslim harus mengacu pada Al-Qura’an dan
As-sunnah, ini yang kemudian disebut Islamic wordview.
2.
Persepsi auditori
Persepsi
auditori didapatkan dari indera pendegaran yaitu telinga.
3.
Persepsi perabaan
Persepsi
pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
4.
Persepsi penciuman
Persepsi
penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
5.
Persepsi pengecapan
Persepsi
pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.
BAB II Fantasi
Pengertian Fantasi
Fantasi adalah yang berhubungan dengan khayalan atau
dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hannya hannya ada dalam benak
atau fikiran saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi. Fantasi bisa juga
merupakan sebuah genre yang menggunakan bentuk sihir dan supranatural sebagai
salah satu element plot, tema dan seting dalam sebuag film. Genre fantasi
secara umum dibedakan dengan genre sains fisika yang lebih bertemakan ilmiah dan
horror tentang hal yang mengerikan. Fantasi bisa terjadi yaitu karena :
1.
Secara disadari, yaitu apabila individu
betul-betul menyadari akan fantasinya, misalnya seorang pelukis yang sedang
menciptakan lukisan dengan imajinasinya.
2.
Secara tidak disadari, yaitu apabila
individu tidak secara sadar telah dituntun oleh fantasinya, hal sperti ini
banyak dijumpai pada anak-anak.
Macam-macam fantasi
1.
Fantasi yang menciptakan, yaitu
merupakan bentuk atau jenis yang menciptakan sesuatu, missal, perancang busana menciptakan
model pakaian.
2.
Fantasi yang dituntun atau yang
dipimpin, yaitu merupakan bentuk atau fantasi di tuntun oleh pihak lain,
missal, orang akan berfantasi kalau mendengarkan suatu berita.
3.
Fantasi yang mendeterminasi, yaitu cara
orang berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu, artinya dalam
berfantasi itu sudah ada semacam skema tertentu, lalu diisi dengan gambaran
lain. Missal, anal kecil yang tidak tau bentuk harimau, maka akan dijelaskan
bahwa bentuk harimau itu seperti kucing yang bentuknya besar.
4.
Fantasi yang mengkombinasi, yaitu orang
yang berfantasi dengan cara mengkombinasi pengertian-pengertian atau
bayangan-bayangan yang ada pada individu bersangkurtan.
Nilai-nilai Fantasi
1.
Fantasi memungkinkan orang menempatkan
diri dalam hidup kepribadian orang lain,
dengan demikian maka dia dapat memahami sesame manusia.
2.
Fantasi yang memungkinkan orang untuk
melayani sifat-sifat kemanusian pada umumnya.
3.
Fantasi yang memungkinkan orang untuk
melepaskan diri dari ruang dan waktu.
4.
Fantasi yang memungkinkan orang untuk
melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi, melupakan kegagalan-kegagalan
dimasa lampau.
5.
Fantasi yang memunkinkan orang untuk
menyelesaikan konflik rill secara imajiner.
6.
Fantasi yang memungkinkan orang untuk
menciptakan sesuatu yang dikejar, membentuk masa depan yang ideal dan berusaha
merelasasikan.
Bayangan
fantasi berbeda dengan bayangan persepsi. Bayangan persepsi merupakan hasil
persepsi, sedangkan bayangan fantasi merupakan hasul dari fantasi, dengan
kekuatan fantasi orang dapat menjangkau kedepan. Keburukannya ialah dengan
fantasi orang dapat meninggalkan alam kenyataan, lalu masuk ke dalam alam
fantasi. Fantasi juga dapat menimbulkan kedustaan, dll.
BAB III Ilusi
Pengertian Ilusi
Ilusi bersal dari bahasa latin yaitu illusion yang
berarti cemooh, illudere yang berarti mencemohkan, manggaburkan, dan
menyesatkan. Ilusi merupakan keadaan salah tafsir dari indera terhadap
ransangan suatu objek atau pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan.
Misalnay ilusi optic, tidak lain merupakan tipuan mata pada saat melihat benda.
Jadi seolah-olah mata tersesat dalam mengamati suatu objek, karena mata
bukanlah alat pengguna yang baik. Ilusi juga bisa berarti tidak dapat dipercaya
atau palsu. Ilusi juga dapat berarti sesuatu yang ada hanya dalam angan-angan
atau dengan kata lain adalah khayalan. Bagian-bagian dari ilusi adalah
halusianasi, khayalan, fantasi, delusi dan asosiasi. Bahasa inggris untuk kata
ilusi adalah iilusion.
Jenis-jenis ilusi
1.
Ilusi Fisiologi
Ilusi
fisiologis, seperti yang terjadi pada aftermages atau kesan gambar yang terjadi
setelah melihat cahaya yang sangat terang atau meliaha pola gambar tertentu
dalam waktu lama. Ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak
setelah mendapat ransangan tertentu secara berlebihan.
2.
Ilusi Kognitif
Ilusi
kognitif diasumsikan terjadi karena anggapan fikiran terhadap sesuatu diluar.
Pada umumnya ilusi kognitif dibagi menjadi ilusi ambigu, ilusi distorsi, ilusi
paradox dan ilusi fiksional.
Pada
ilusi ambigu, gambar atau objek bisa ditafsirkan secara berlainan. Contohnya
adalah kubus Necker dan vas Rubin. Pada ilusi distorsi, terdapat distorsi
ukuran panjang atau sifat kurya (lurus lengkung).
BAB IV Memori
Pengertian Memori
Secara etimologi, memori atau memory (inggris), memoire (Prancis)
adalah keberadaan tentang pengalaman masa lampau yang hidup kembali, catatan
yang berisi penjelasan, alat yang dapat menyimpan dan merekan informasi. Memori
juga berarti ingatan yang mempunyai arti lebih luas yaitu :
1.
Apa yang diingat, yang terbayang
dipikiran sepanjang ingatan.
2.
Alat atau daya batin untuk mengingat dan
mnyimpan sesuatu yang pernah diketahui (dipahami atau dipelajari).
3.
Pikiran, dalam arti angan-angan,
kesadaran.
Apa
yang terbit dihati, seperti niat atau cita-cita. Ilmu Psikologi mendefinisikan
memori sebagi sebuah proses pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali
informasi (retrieval) oleh manusia denorganisme lainnya. Pengkodean berkaitan
dengan presepsi awal dan pengenalan. Menurut perspektif Psikologi terutama Psikologi
kognitif bahwa memori atau ingatan ialah kekuatan jiwa untuk menerima,
menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi 3 unsur dalam perbuatan ingatan
yaitu : menerima kesan-kesan, menyimpan dan memproduksi. Dengan adanya
kemampuan untuk mengigat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa
manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkn kembali dari suatu yang pernah
dialami.
Teori-Teori Momori
Teori yang paling banyak diterima para ahli adalah teori
tentang 3 proses memori, yaitu : Teori enconding, yaitu pengkodean
terhadap apa yang dipresepsi dengan cara mengubah menjadi simbol-simbol atau
gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada
organism. Jadi enconding merupakan suatu proses mengubah sifat suatu informasi
kedalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat memori organism. Proses ini sangat mempengaruhi lamanya suatu
informasi disimpan dalam memori. Proses pengubah informasi ini dapat terjadi
dengan dua cara, yaitu : Tidak sengaja, yaitu apa bila
hal-hal yang diterima oleh inderanya dimasikan dengan tidak sengaja memasukan
pengalaman dan pengatuhan kedalam ingatannya. Berdasarkan beberapa penelitian,
ternyata ada perbedaan kemampuan pada individu yang satu dengan individu yang
lain dalam memasukan informasi yang diterimanya.
BAB V Berpikir
Pengertian Berpikir
Erpikir adalah tingkah laku menggunakan ide untuk
membantu seseorang berpikir.
Macam-macam kegitan
berpikir dapat kita golongkan sebagai berikut :
1.
Berpikirasosiatif, yaitu proses berpikir
dimana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses
berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide-ide
muncul secara bebas.
Jenis-jenis Berpikir Asosiatif
a.
Asosiasi bebas, suatu ide akan
menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang
makan dapat merangsangnya ide tentang restoran dapur, nasi atau anak yang belim
sempat diberi makan atau hal lain.
b.
Asosiasi terkontrol, satu ide tertentu
menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya, ide
tentang membeli mobil, akan merangsang ide-de lain tentang harganya, pajaknya,
pemeliharannya, mereknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang
hal-hal lain duluar itu seperti peraturan lalulintas, polisi lalu lintas,
mertua sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih, dsb.
c.
Melamun, yaitu menghayal bebas, sebab-sebabnya
tanpa bats, juga mengenal hal-hal yang tidak realistis.
d.
Mimpi, ide-ide tentang berbagai hal yang
timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang
terlupakan pada waktu terbangun, tetpai kadang-kadang masih diingat.
BAB VI Emosi dan Perasan
Pengertian
Emosi dan perasaan (emotion & feeling). Keduanya
digunakan secara tumpang tindih dalam percakapn seharian. Ketika seorang
bertanya pada orang lain apa yang dia rasakan ketika dihianati pacarnya, jarang
orang bertanya, “bagaimana emosimu?”, kebanyakan akan bertannya “bagaimana
perasaanmu?”. Dalam bahas sehari-hari, kata emosi memang sangat jarang
digunkan. Kata perasaan lebih umum digunakan. Perasaan mengandung adanya suatu
perasaan subjektif. Apa yang dirasakan satu orang dengan orang lain re;atif
sulit untuk dibandingkan. Hannya diri sendiri yang bisa mengalami perasaan yang
muncul. Oleh sebab itu disebut pengalaman subjektif. Misalnya, Anda merasa
damai, maka Anda sendiri yang menggalaminya. Rasa damai yang dirasakan oleh
orang lain bisa saja berbeda kadarnya.
Kebanyakan orang berpikir bahwa emosi adalah satu jenis
perasaan. Sesuatu dianggap emosi tatkala seseorang merasakan perasaan tertentu,
terutama marah. Selain marah, perasaan lain yang kerap dianggap sebagai emosi
misalnya adalah cinta, sedih, bahagia, dan cemburu. Orang akan menggatakan
David sedang emosi ketika ia sedang marah (ia begitu ‘emosi’ tahu pacanya makan
malam dengan orang lain), atau cinta (emosinya begitu mendalam pada
kekasihnya).
Gejala-gejala Emosi
1.
Kekutan emosi, adalah kemampuan untuk
kuat”menekan” perasaan, melibatkan intoleransi emosi dan perasaan dalam diri
kita dan orang lain. Tingkat kekuatan emosi diukur dengan beberapa banyak atau
seberapa sering kita bertindak. Semakin banyak tindakan atau ekspresi fisik,
maka emosi akan semakin kuat. Misalnya, ketika seseorang merasa bahagia karena
memenagkan lotre atau uang undian, lantas dia bernyayi-nyayi dan menari tanpa
mempedulikn orang disampingnya. Maka, tingkat kekuatan emosinya dikatakan kuat
dibandingkan orang yang hannya diam padahal dia sedang merasa senang.
2.
Gangguan emosi, seseorang akan disebut
mengalami gangguan emosi jika keadaan emosi yang dialaminya menimbulkan
gangguan pada dirinya. Baik emosi yang dialami terlalu kuat (misalnya sangat
sedih), tidak ada emosi yang hadir (misalnya tidak merasa bahagia) atau
emosinya menimbulkan konflik (misalnya terlalu sering marah). Biasanya, orang
yang merasa emosinya terganggu. Misalnya,
seorang mengalami emosi tertentu, seperti depresi, kecemasan, dan kemarahan
yang terlalu sering atau terlalu kuat .
Pada
umunya gangguan emosional berkisar pada persoalan emosi takut dan kecemasan.
Takut sebagai reaksi terhadap situasi yang berbahaya dan cemas sebagai
antisipasi dn ras takut. Berbagai jenis fobia merupakan emosi takut yang
berlebih. Misalnya takut akan tempat tinggi (acrophobia), takut pada tempat
terbuka (agoraphobia), takut cahaya dan kilat (astraphobia), takut air (hydrophobia),
takut makan (sitophobia), dsb.
BAB IIV Abnormalitas Prilaku
Pengertian
Menurut
Supratikanya (1995)merumuskan konsep normal dan abnormal agak susah
dikarenakan, sulit menemukan model manusia yang ideal dan sempurna, dalam bnyak
kasus tidak adanya batas-batas antara perilaku normal dan abnormal. Dalam
keseharian orang normal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan
perkataan yang tergolong abnormal diluar kesadarannya. Sebaliknya orang
abnormal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan lisan seperti yang
normal terkadang kita salah mengpreseepsikan apakah perbuatan atau perkataan
diri sendiri atau orang lain termasuk kriteria normal? Atau abnormal? Oleh
sebab itu, diperlukan batas-batas yang membendakan antara normal dan abnormal
sehingga kita dapat membedakanya secara jelas.
Definisi Umum
Sehat adalah keadaan berupa kesejahtraan
fisik, mental, dan social secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya
atau keadaan lemah tertentu (world Healt Organization-WHO). Karl Meninger,
seorang psiketer memberikan rumusan sebagai berikut “kesehatan mental adanya
penyesuain manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan
kebahagian yang maksimum. Ia bukan hanya berupa efisiensi atau hanya perasaan
puas atau keluwesan dalam mematuhi aturan permainan dengan riang hati.
Kesehatan mental mengcangkup itu semua. Kesehatan mental meliputi kemampuan
menahan diri, menunjukan kecerdasan, berprilaku dengan meneggang perasaan orang
lain dan sikap hidup yang bahagia”.
Ciri-ciri orang Sehat-Normal
Sikap terhadap diri sendiri,
meninjukan penerimaan diri (konsep diri), memiliki jati diri yang memadai
(positif), memiliki penilaian yang realistic terhadap berbagai kelebihan dan
kekurangan yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh diri sendiri. Persepsi
terhadap realitas, memiliki pandangan yang realistic.







0 komentar:
Posting Komentar